Sistem Manajemen Mutu Labor IPA

SISTEM MANAJEMEN MUTU LABOR IPA

Laboratorium IPA di sekolah merupakan salah satu wahana belajar bagi siswa. Untuk menghasilkan proses belajar yang berkualitas, laboratorium perlu dilengkapi dengan sarana prasara yang menunjang paling tidak sesuai dengan standar sarana laboratorium. Untuk itu, fungsi laboratorium IPA sebagai wadah untuk melakukan praktik atau penerapan atas teori, penelitian, dan pengembangan keilmuan IPA.

1.      Pengertian Mutu laboratorium IPA
Kualitas/mutu dapat didefinisikan sebagai suatu ketelitian, kehandalan, dan ketepatan waktu dalam melaporkan hasil tesHasil tes laboratorium harus seakurat mungkin, semua aspek yang menyangkut pengoperasian laboratorium harus diakui, dan pelaporannya harus tepat waktu karena banyak digunakan dalam lingkungan kesehatan publik dan klinis
Sistem manajemen mutu dapat didefinisikan sebagai "kegiatan yang terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi dengan memperhatikan mutu". Definisi ini digunakan oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) dan oleh Klinis dan Institut Standar Laboratorium (CLSI). Kedua kelompok ini diakui secara Internasional oleh organisasi standar laboratorium
Model mutu di sini digunakan untuk mengatur semua kegiatan laboratorium menjadi 12 sistem mutu yang penting. Sistem mutu yang penting ini adalah seperangkat dari kegiatan yang dikordinasikan yang berfungsi seperti balok bangunan untuk manajemen mutu. Masing-masing harus diatasi jika peningkatan kualitas laboratorium secara keseluruhan yang ingin dicapai. Model sistem manajemen dikembangkan oleh CLSI, dan sepenuhnya sesuai dengan standar ISO
ISO 9000 mendefenisikan manajemen mutu sebagai “ kegiatan yang terkoordinasi atau teratur untuk mengarahkan dan mengendalikan organisasi dalam hal mutu “. Hal ini erat kaitannya dengan defenisi dari system struktur organisasi, sumber daya yang berkualitas, proses dan prosedur yang diperlukan untuk menerapkan manajemen mutu. Konsep manajemen mutu yang diguanakan pada saat ini pertama kali muncul pada awal abad ke-20 dan merupakan hasil dari proses manufaktur dan toko
IPA sedikitnya mencakup empat kegiatan utama, yakni (1) melaksanakan eksperimen, (2) kerja laboratorium, (3) praktikum, dan (4) pelaksanaan didaktik pendidikan IPA. Eksperimen dilakukan di laboratorium guna menemukan bukti empirik untuk menguji dan memverifikasi hipotesis, melalui kegiatan pengukuran dan pengamatan. Kerja laboratorium merupakan aktifitas dengan menggunakan fasilitas laboratorium untuk melakukan kegiatan berkesinambungan, melakukan kendali mutu, uji-coba, ekshibisi (pameran) proses IPA, dan kegiatan lain yang sejenis. Praktikum di sekolah umumnya bersifat verifikatif sebagai kegiatan belajar bagi siswa dengan mengikuti langkah-langkah atau penuntut praktikum yang telah disusun guru. Praktikum di sekolah dikembangkan lebih pada kegiatan inkuiri dan berkaitan erat dengan pelaksanaan didaktik pendidikan IPA.
Laboratorium sebagai wahana pendidikan harus memiliki kelengkapan, baik dalam hal tata bangunan, fasilitas, perlengkapan, bahan, personil, dan sistem tata kelola yang memadai.     Pada dasarnya hal-hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan pembangunan laboratorium IPA, diantaranya (1) arsitektur bangunan, (2) persyaratan ruang, (3) pengaturan spasial peralatan dan bangku, (4) jalan keluar darurat, (5) persyaratan penyimpanan, (6) instalasi pengelolaan limbah, (7) kontrol akses, (8) fitur pengamanan, dan (9) pencahayaan serta ventilasi. Laboratorium sekolah yang baik harus mampu menampung siswa sesuai dengan kelayakannya. Idealnya, setiap siswa di laboratorium memiliki ruang gerak seluas ± 2,5 m2(termasuk area meja dan kursi) dengan tinggi langit-langit minimal 4 m. Hal ini dimaksudkan agar siswa mudah bergerak dan mempermudah proses penyelamatan diri apabila terjadi kecelakaan. Selain itu ventilasi laboratorium harus cukup sehingga udara di laboratorium senantiasa mengalir agar udara segar selalu mengalir menggantikan udara laboratorium. Untuk mempermudah proses evakuasi pada saat terjadi kecelakaan, laboratorium IPA setidaknya memiliki dua pintu, yakni pintu masuk dan keluar. Bangunan laboratorium IPA sekolah hendaknya dibangun di tempat yang agak jauh dari ruang kelas agar tidak mengkontaminasi lingkungan. Di samping itu, laboratorium IPA hendaknya memiliki fasilitas keamanan standar, seperti alat pemadam kebakaran (handfire), blower, tempat sampah (organik dan anorganik), ruang asam (fume hood), shower. Lebih baik apabila terdapat detektor asap (smoke detector), detektor api (heat detector), dan keran pencuci mata (eye wash). Selain itu, perlu tersedianya peralatan P3K sebagai antisipasi pertolongan pertama pada kecelakaan
Peralatan dan bahan di laboratorium IPA harus memenuhi standar minimal sarana laboratorium IPA. Selain peralatan dan bahan yang karakteristik untuk setiap laboratorium IPA, sarana kelengkapan umum yang harus tersedia di laboratorium adalah meja dan kursi siswa, meja dan kursi guru, meja demonstrasi, wastafel, lemari alat dan bahan, papan tulis, serta peralatan spesifik (seperti jam dinding, termometer dinding, barometer dinding, komputer, jaringan internet, telpon, layar, dan proyektor). Selain itu peralatan yang penting ada pada laboratorium adalah peralatan perlindungan diri (APD). Secara umum APD yang harus ada pada laboratorium IPA, diantaranya sarung tangan, google, masker, dan jaslab.
Personil laboratorium IPA harus memiliki kompetensi sesuai dengan kebutuhan. Selain kepala laboratorium yang bertanggungjawab terhadap semua kegiatan di laboratorium, personil di laboratorium, antara lain koordinator praktikum, guru praktikum, teknisi, dan laboran. Koordinator praktikum bertugas untuk mengkoordinasi kegiatan praktikum di laboratorium. Guru praktikum merupakan ujung tombak kegiatan praktikum di laboratorium, sedangkan teknisi dan laboran berperan sebagai layanan sebelum, selama, dan sesudah praktikum. Di laboratorium IPA sekolah yang bertanggungjawab terhadap kebersihan dan keamanan laboratorium selama bekerja di laboratorium adalah semua warga laboratorium. Dengan demikian, semua personil termasuk guru praktikum, laboran, dan siswa memiliki kewajiban dalam memelihara kebersihan dan keamanan laboratorium.
Sekecil apapun unit kerja, haruslah memiliki struktur organisasi yang jelas agar dengan mudah mengarahkan pekerjaan. Berdasarkan hirarki tanggung jawab, struktur organisasi laboratorium IPA sekolah dapat dikembangkan dalam tiga tingkatan, yakni tingkat puncak, menengah, dan garis depan. Manajemen puncak bertanggung jawab atas perencanaan, penerapan, monitoring, dan evaluasi sistem menajemen mutu yang efektif. Manajemen tingkat menengah umumnya mencakup unit fungsional, bertanggung jawab pada operasional atau teknis kegiatan laboratorium, fungsi pengawasan mutu, dan fungsi administratif. Manajemen garis depan adalah personil yang berhubungan langsung dengan pengguna laboratorium (siswa) yang meliputi guru praktikum, teknisi, dan laboran.
Laboratorium IPA sekolah bertanggung jawab baik terhadap proses maupun produk kegiatan laboratorium. Hal ini dipahami karena laboratorium sekolah berperan sebagai pengganti pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, laboratorium IPA sekolah harus dikelola secara sungguh-sungguh, sistematik, tepat sasaran, sehingga tujuan pembelajaran yang berorientasi pada proses dan produk pembelajaran melalui praktikum tercapai. Agar tujuan praktikum di laboratorium tercapai, maka diperlukan sistem tata kelola atau manajemen yang mencerminkan kualitas atau mutu proses atau kegiatan laboratorium dengan senantiasa memperhatikan kepuasan siswa. Untuk itu, perlu dikembangkan sistem dokumentasi laboratorium IPA sekolah. Dokumentasi adalah suatu proses pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi. Dengan dikembangkannya sistem dokumentasi laboratorium IPA sekolah, maka semua kegiatan perencanaan, implementasi, dan evaluasi semua kegiatan laboratorium dapat mudah ditelusur. Dengan kata lain, sistem dokumentasi laboratorium IPA sekolah akan memudahkan siapa saja yang berkepentingan untuk mengakses informasi tentang laboratorium dan kegiatannya.
Untuk mengetahui sejauh mana sistem mutu dijalankan oleh suatu laboratorium, perlu dikembangkan sistem monitoring dan kaji ulang manajemen. Monitoring adalah suatu kegiatan pemeriksaan sistematik dan tidak memihak untuk menetapkan bahwa kegiatan sistem manajemen mutu dan hasilnya telah sesuai dengan rencana, diterapkan secara efektif, dan telah sesuai dengan pencapaian tujuan. Laboratorium IPA sekolah perlu melakukan kegiatan ini baik secara internal (oleh laboratorium itu sendiri) maupun secara eksternal (oleh tim monitoring dari luar laboratorium). Kegiatan ini tidak terlepas dari upaya laboratorium untuk memberikan pelayanan optimal kepada siswa dalam melaksanakan praktikum di laboratorium.
Sebagai tempat pembelajaran, laboratorium pada umumnya mempunyai sarana dan prasarana
yang terdiri atas:
1.  Ruang laboratorium: ruang  untuk kegiatan praktikum,  ruang  kegiatan administrasi dan persiapan, serta ruang penyimpanan;
2.  Fasilitas laboratorium:  intalasi air (bak cuci dan kran air), intalasi/jaringan listrik, saluran  gas, lemari asap, blower/kipas angin, meja, kursi,  lemari, rak, papan tulis, alat pemadam kebakaran, kotak obat-obatan, peralatan P3K, dll.;
3.  Alat-alat laboratorium:  pH meter,  mikroskop, neraca, osiloskop,  labu Erlemeyer, labu  ukur.
4.  Zat (bahan kimia): asam florida, amoniak pekat, eter, oksigen

Untuk lebih jelas akan dibahas beberapa pengelolaan sarana dan prasarana laboratorium.
Ruang Laboratorium bentuk, ukuran, denah atau tata letak fasilitas dari setiap ruangan itu dirancang sedemikian rupa sehingga memungkinkan setiap kegiatan yang dilaksanakan di dalamnya dapat berjalan dengan baik dan nyaman, memudahkan akses dari ruangan yang satu ke ruangan yang lainnya, memudahkan pengontrolan, menjaga keamaan alat-alat dan memelihara keselamatan kerja. Berikut ini adalah contoh gambaran umum ruangan-ruangan laboratorium.
a.  Ruang praktikum
Ruang praktikum merupakan bagian utama dari sebuah laboratorium sekolah. Ruang praktikum adalah ruang tempat berlangsungnya proses pembelajaran di laboratorium. Proses pembelajaran di dalam ruang praktikum dapat berupa peragaan atau demonstrasi, praktikum perorangan atau kelompok, dan penelitian. Proses pembelajaran di ruang praktikum menuntut tempat yang lebih luas dari pada proses pembelajaran klasikal di dalam kelas biasa. Olehkarena itu luas ruang praktikum harus dapat memberikan keleluasaan bergerak kepada siswa dan guru selama melakukan proses pembelajaran. Luas ruang praktikum ini tentu harus memperhitungkan jumlah siswa dan guru yang akan melaksanakan proses pembelajaran di dalamnya. Luas ruang praktikum  persiswa rata-rata 2,5 m2 (termasuk meja kerja). Jadi bila kita ingin laboratorium memuat 40 siswa, maka luas laboratorium tersebut hendaknya sekitar 100 m2
.               Untuk kenyamanan dan keselamatan kerja  sebaiknya  ruang praktikum memiliki fasilitas-fasilitas sebagai berikut :
·  Instalasi listrik (untuk percobaan, demonstrasi, penerangan dan lain-lain),
·  instalasi air dengan bak cucinya, dan instalasi gas.
·  Fasilitas mebeler berupa meja dan kursi praktikan untuk siswa, kursi dan meja demonstrasi    untuk guru, loker penitipan tas buku siswa, dan lemari penyimpanan alat-alat praktikum.
·  Papan tulis,
·  Layar untuk OHP serta in focus.
·  Ventalasi udara yang cukup, dapat berupa jendela, langit-langit yang tidak tertutup rapat, atau mungkin kipas angin).
·  Pintu masuk dan pintu keluar yang berbeda dengan daun pintu terbuka ke luar.
·  Pintu yang berhubungan langsung dengan ruang persiapan dan ruang guru serta dapat teramati dari.kedua ruangan itu.
·  Kotak P3K.
·  Fasilitas pemadam kebakaran.

b.  Ruang administrasi dan persiapan
Ruang  adminstrasi dan  persiapan adalah ruang yang disediakan untuk melakukan pengadministrasian, perawatan dan persiapan alat-alat serta bahan. Bila sekolah atau laboratorium memiliki petugas laboran, ruang  administrasi dan persiapan juga dapat digunakan sebagai ruang kerja laboran dalam melayani kegiatan aboratorium kepada guru dan siswa. Ruang  administrasi dan  persiapan terdapat di dalam laboratorium, di  antara ruang praktikum dan ruang penyimpanan atau gudang.
Ruang  administrasi/persiapan dan ruang praktikum sebaiknya disekat dengan dinding  berkaca bening atau ram kawat, sehingga dari dalam ruang ini guru atau laboran dapat  melihat kegiatan yang terjadi di dalam ruang praktikum.
Ruang persiapan memiliki instalasi listrik dan ventilasi udara yang baik. Memiliki fasilitas mebeler seperti :
·       Kursi dan meja kerja untuk melakukan pengadministrasian, perawatan, dan persiapan kegiatan laboratorium.
·       Lemari atau rak alat-alat.
·       Loket peminjaman alat-alat.

c.  Ruang penyimpanan.
Ruang penyimpanan di laboratorium dapat juga disebut sebagai gudang laboratorium, adalah ruang yang disediakan khusus untuk menyimpan alat-alat  dan bahan  yang sedang tidak digunakan. Ruang penyimpanan terdapat di dalam laboratorium di sebelah dalam ruang persiapan.
Ruang penyimpanan alat sebaiknya dipisahkan dengan ruang penyimpanan zat, untuk menghindari kerusakan alat akibat korosi dsb. Apabila tidak ada ruang lain untuk penyimpanan alat dapat dilakukan pada lemari di ruang praktikum.  Demi keamanan dan kemudahan penyimpanan dan pengambilan alat-alat  dan bahan, ruang penyimpanan atau gudang biasanya hanya memiliki satu pintu masuk dan keluar  melalui ruang persiapan.
Ruang penyimpanan atau gudang harus memiliki instalasi listrik dan ventilasi udara yang baik. Memiliki fasilitas mebeler seperti :
·       Macam-macam lemari alat-alat dan bahan-bahan.
·       Macam-macam rak untuk alat-alat.
     Pada kenyataan di lapangan  jumlah, bentuk, ukuran, kualitas dan lokasi setiap ruang  laboratorium dapat saja berbeda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya, bergantung  kepada keadaan di masing-masing sekolah. Hal itu dapat terjadi misalnya karena  laboratorium didirikan dengan memanfaatkan ruangan-ruangan tertentu yang sudah ada di  sekolah. Akan tetapi, seandainya laboratorium di bangun baru di tanah kosong, maka  perencanaannya hendaklah memperhatikan perbandingan yang proporsional antara ruang  yang satu dengan ruang yang lainnya, dan antara setiap ruangan yang dibuat hendaknya  mudah saling mengakses selama kegiatan laboratorium berlangsung. Berikut ini adalah salah  satu contoh denah ruang laboratorium.
Instalasi Gas
Instalasi gas di laboratorium dibutuhkan untuk percobaan-percobaan yang menggunakan kompor/pemanas Bunsen seperti untuk memanaskan air dan sebagainya. Instalasi gas di  laboratorium dapat dibuat dengan menggunakan tabung gas LPG dan penyaluran gas ke kompor/pemanas melalui pipa instalasi gas yang dapat dipasang pada dinding atau lantai ke kompor/pemanas. Dengan adanya instalasi gas ini, harus diperhatikan instalasi udara yang cukup di tempat yang tepat untuk membuang kebocoran gas yang mungkin terjadi. Harus  diingat bahwa kalau menggunakan gas LPG maka gas itu lebih berat dari udara sehingga lubang pembuangan kebocoran gas itu harus di bagian bawah dinding atau cukup rendah
Berdasarkan uraian di atas penulis ingin menanyakan :
1.      Bagaimana keberadaan laboratorium IPA sekolah selama ini yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dapat menunjang pembelajaran yang membutuhkan praktikum?
2.      Bagaimana pemanfaatan laboratorium dalam mendukung pembelajaran IPA?
3.       Bagimana cara pengelolaan laboratorium yang baik dapat membantu proses pembelajaran IPA di sekolah?

DAFTAR PUSTAKA

Ningsih. 2015. Dewiningsih.blogspot.com. Sistem Manajemen Mutu Laboratorium IPA. 05 Februari 2018. 16.00 WIB

Wati. 2015. http://wati.blogspot.com. Manajemen mutu laboaratorium. 01 Februari 2018. 16.00 WIB

Hengki dan Hasbian. 2013. Windahengki.blogspot.com. Mengenal Mutu Laboratorium. 07 Februari 2018. 17.00 WIB

Kadaromah asep. 2012. Asepkadaromah.blogspot.com.Manajemen laboratorium IPA. 06 Februari 2018. 16.00 WIB


Komentar

  1. Assalamualaikum wr.wb
    Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 3.
    Bagimana cara pengelolaan laboratorium yang baik dapat membantu proses pembelajaran IPA di sekolah?
    Di dalam pembelajaran ipa itu banyak materi yg mengarah k pratikum. Kalau hanya pemberian teori saja di lokal saya kira itu belum cukup karena apalah arti teori tanpa pratikum..jadi disini guru harus bisa membagi waktu untuk teori dan pratikun langsung d dalam laboratorium.
    Dengan teori disertai pratikum siswa akan cepat mengerti dan tidak bosan di kelas.
    Terima kasih

    BalasHapus
  2. Menanggapi pertanyaan nomor dua tentang pemanfaatan laboratorium dalam mendukung pembelajaran IPA?
    keberadaan laboratorium IPA di sangat mendukung proses pembelajaran, Praktikum yang dilakukan di laboratorium IPA tidak hanya sekedar kegiatan manual dengan atau tanpa alat saja, melainkan melatih peserta didik untuk memiliki keterampilan proses ilmiah dan pengembangan sikap ilmiah yang mendukung proses perolehan pengetahuan.

    Salam
    Agung Laksono

    BalasHapus
  3. terimakasih artikelnya, terkait pertanyaan pertama Bagaimana keberadaan laboratorium IPA sekolah selama ini yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dapat menunjang pembelajaran yang membutuhkan praktikum? ini adalah hal yang sering kita jumpai disekolah yang berada diprovinsi ini terutama di plosok2, sarana dan prasarana praktikum kurang lengkap.menurut saya sebagai guru yang kreatif kita harus bisa menggunakan sarana prasarana lain yang ada dilingkungan kita untuk melakukan praktikum.walaupun sebenarnya lebih efektif jika menggunakan alat yang ada dilaboratorium, terutama seperti fisika, akan agak sulit melakukan praktikum jika alat nya tidak ada. maka selama ini sebagai gur hanya bisa berteori atau menunjukkan vidio atau gambarnya. hal ini akan berpengaruh terhadap penguasaan alat anak, karena akan lebih baik praktek secara langsung menggunakan alat tersebut. terimakasih

    BalasHapus
  4. terima kasih....
    menjawab soal nmor 1 Bagaimana keberadaan laboratorium IPA sekolah selama ini yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dapat menunjang pembelajaran yang membutuhkan praktikum?
    seorang guru harus kreatif, bla lab ipa nya blum memadai/blum ada bisa digunakan alat yang didapat dri perkelompok siswa atau jika terlalu mahal bisa digunakan media virlual lab.

    BalasHapus
  5. Saya menanggapi pertanyaan no 3
    Laboratorium IPA sekolah harus dikelola dengan sangat bersungguh-sungguh, sistematik, dan tepat sasaran, sehingga tujuan pembelajaran yang berorientasi pada proses dan produk pembelajaran melalui praktikum tercapai. Pada pembelajaran IPA semsetinya tidak hanya berfokus pada teori saja tetapi diarahkan untuk kegiatan praktikum pada materi-materi yang membutuhkan kegiatan percobaan.
    terima kasih

    BalasHapus
  6. Saya akan menjawab pertanyaan nomor 3 yaitu dengan memperhastikan aspek perencanaan tentang semua kegiatan yang harus dilakukan, langkah , metode, tenaga, dan dana. Yang kedua dengan penataan alat serta bahan. Yang ketiga melakukan proses pencatatan ataupun investarisasi fasilitas serta aktifitas laboratorium. Yang keempat memperhatikan pengamanan, perawatan serta pengawasan

    BalasHapus
  7. menanggapi pertanyaan No 2, Bagaimana pemanfaatan laboratorium dalam mendukung pembelajaran IPA?
    menurut saya untuk pemanfaatan laboratorium dalam mendukung pembelajaran IPA sudah bisa dimanfaatkan dengan baik, walaupun dibeberapa sekolah memiliki keterbatasan dari segi sarana dan prasarana guna menunjang kegiatan dilabor, dan hal itu harus bisa diatasi dengan oleh pemerintah guna mencapai pemanfaatan laboratorium yang bisa dimanfaatkan dengan baik.

    BalasHapus


  8. Menanggapi soal no 1.
    Memang tidak bisa di pungkiri, masih ada banyak sekolahan yang tidak mempunyai sarana dan prasarana praktikum yang lengkap.
    Untuk itulah seorang guru harus kreatif, sehingga permasalahan tersebut bisa diatasi.
    Guru bisa mengadakan praktikum yang sederhana, dengan memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada, atau guru jg bisa membuat sendiri fasilitas praktikum yang mampu menunjang jalannya praktikum tsb.

    BalasHapus
  9. menanggapi pertanyaan nomor 2.
    Walaupun ada pembedaan jenis laboratorium, tetapi ada fasilitas laboratorium yang bersifat umum yang seharusnya ada dalam setiap laboratorium, seperti:

    1) Meja. Meja ada beberapa macam, yaitu meja kerja untuk peserta didik meja kerja untuk guru, meja demonstrasi dan meja dinding.
    2) Lemari. Berdasarkan wujud dan kegunaannya maka kebutuhan lemari suatu laboratorium adalah sebagai berikut: (a) Lemari biasa (lemari kaca), (b) Lemari gantung, dan (c) Lemari di bawah meja dinding
    3) Rak
    4) Bakcuci pada meja
    5) Listrik (stop kontak pada setiap meja praktikan)
    6) Pemanas (gas atau pembakar spiritus)
    Terima kasih

    BalasHapus
  10. mencoba menanggapi pertanyaan nomor satu ibu untuk sarana dan prasarana laboratorium yang kekurangan alat biasanya guru akan mengakali dengan membuat alat sederhana atau dengan menggunakan media kreatif yang tersedia disekolah atau disekitar lingkungan

    BalasHapus
  11. Menurut pendapat saya, bagaimana keberadaan laboratorium IPA sekolah selama ini yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dapat menunjang pembelajaran yang membutuhkan praktikum?
    Para guru bisa mengadakan praktikum secara sederhana dengan menggunakan alat-alat praktikum yang mudah didapat kan, tapi itu semua tergantung pada kreatif guru dalam mengadakan praktikum tersebut.

    BalasHapus
  12. Terima Kasih
    saya akan menjawab pertanyaan No 3
    Agar pengelolaan labor dapat membantu proses pembelajaran IPA dapat dilakukan mulai dari manajemen mutu laboratorium yang sesuai standar dan pelengkapan sarana dan prasarana yang lengkap.
    terima kasih

    BalasHapus
  13. Bagaimana keberadaan laboratorium IPA sekolah selama ini yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dapat menunjang pembelajaran yang membutuhkan praktikum? disini bisa menggunakan laboratorium virtual dengan memanfaatkan alamdan lingkungan sekitar sebagai instrumen praktikum dan guru juga bisa menggunakan media simulasi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Persiapan Sebelum Praktikum di Laboratorium

Fungsi-Fungsi manajemen labor IPA