Sistem Manajemen Mutu Labor IPA
SISTEM MANAJEMEN MUTU LABOR IPA
Laboratorium IPA di
sekolah merupakan salah satu wahana belajar bagi siswa. Untuk menghasilkan
proses belajar yang berkualitas, laboratorium perlu dilengkapi dengan sarana
prasara yang menunjang paling tidak sesuai dengan standar sarana laboratorium.
Untuk itu, fungsi laboratorium IPA sebagai wadah untuk melakukan praktik atau
penerapan atas teori, penelitian, dan pengembangan keilmuan IPA.
1.
Pengertian Mutu laboratorium IPA
Kualitas/mutu dapat didefinisikan
sebagai suatu ketelitian, kehandalan, dan ketepatan waktu dalam melaporkan
hasil tes. Hasil tes laboratorium harus seakurat mungkin, semua
aspek yang menyangkut pengoperasian laboratorium harus diakui, dan pelaporannya
harus tepat waktu karena banyak digunakan dalam lingkungan kesehatan publik dan
klinis
Sistem manajemen mutu dapat
didefinisikan sebagai "kegiatan yang terkoordinasi untuk mengarahkan dan
mengendalikan organisasi dengan memperhatikan mutu". Definisi ini
digunakan oleh Organisasi Internasional untuk Standardisasi (ISO) dan oleh
Klinis dan Institut Standar Laboratorium (CLSI). Kedua kelompok ini diakui
secara Internasional oleh organisasi standar laboratorium
Model mutu di sini digunakan untuk
mengatur semua kegiatan laboratorium menjadi 12 sistem mutu yang penting.
Sistem mutu yang penting ini adalah seperangkat dari kegiatan yang
dikordinasikan yang berfungsi seperti balok bangunan untuk manajemen mutu.
Masing-masing harus diatasi jika peningkatan kualitas laboratorium secara
keseluruhan yang ingin dicapai. Model sistem manajemen dikembangkan oleh CLSI,
dan sepenuhnya sesuai dengan standar ISO
ISO 9000 mendefenisikan manajemen mutu
sebagai “ kegiatan yang terkoordinasi atau teratur untuk mengarahkan dan
mengendalikan organisasi dalam hal mutu “. Hal ini erat kaitannya dengan
defenisi dari system struktur organisasi, sumber daya yang berkualitas, proses
dan prosedur yang diperlukan untuk menerapkan manajemen mutu. Konsep manajemen
mutu yang diguanakan pada saat ini pertama kali muncul pada awal abad ke-20 dan
merupakan hasil dari proses manufaktur dan toko
IPA sedikitnya
mencakup empat kegiatan utama, yakni (1) melaksanakan eksperimen, (2) kerja
laboratorium, (3) praktikum, dan (4) pelaksanaan didaktik pendidikan IPA. Eksperimen dilakukan di laboratorium guna menemukan bukti
empirik untuk menguji dan memverifikasi hipotesis, melalui kegiatan pengukuran
dan pengamatan. Kerja laboratorium merupakan
aktifitas dengan menggunakan fasilitas laboratorium untuk melakukan kegiatan
berkesinambungan, melakukan kendali mutu, uji-coba, ekshibisi (pameran) proses
IPA, dan kegiatan lain yang sejenis. Praktikum di sekolah umumnya
bersifat verifikatif sebagai kegiatan belajar bagi siswa dengan mengikuti
langkah-langkah atau penuntut praktikum yang telah disusun guru. Praktikum di
sekolah dikembangkan lebih pada kegiatan inkuiri dan berkaitan erat
dengan pelaksanaan didaktik
pendidikan IPA.
Laboratorium sebagai wahana pendidikan
harus memiliki kelengkapan, baik dalam hal tata bangunan, fasilitas,
perlengkapan, bahan, personil, dan sistem tata kelola yang memadai. Pada dasarnya hal-hal yang harus
diperhatikan dalam perencanaan pembangunan laboratorium IPA, diantaranya (1)
arsitektur bangunan, (2) persyaratan ruang, (3) pengaturan spasial peralatan
dan bangku, (4) jalan keluar darurat, (5) persyaratan penyimpanan, (6)
instalasi pengelolaan limbah, (7) kontrol akses, (8) fitur pengamanan, dan (9)
pencahayaan serta ventilasi. Laboratorium sekolah yang baik harus mampu
menampung siswa sesuai dengan kelayakannya. Idealnya, setiap siswa di
laboratorium memiliki ruang gerak seluas ± 2,5 m2(termasuk area meja dan kursi) dengan tinggi
langit-langit minimal 4 m. Hal ini dimaksudkan agar siswa mudah bergerak dan
mempermudah proses penyelamatan diri apabila terjadi kecelakaan. Selain itu ventilasi
laboratorium harus cukup sehingga udara di laboratorium senantiasa mengalir
agar udara segar selalu mengalir menggantikan udara laboratorium. Untuk
mempermudah proses evakuasi pada saat terjadi kecelakaan, laboratorium IPA
setidaknya memiliki dua pintu, yakni pintu masuk dan keluar. Bangunan
laboratorium IPA sekolah hendaknya dibangun di tempat yang agak jauh dari ruang
kelas agar tidak mengkontaminasi lingkungan. Di samping itu, laboratorium IPA
hendaknya memiliki fasilitas keamanan standar, seperti alat pemadam kebakaran (handfire), blower,
tempat sampah (organik dan anorganik), ruang asam (fume hood), shower. Lebih
baik apabila terdapat detektor asap (smoke detector), detektor api (heat detector), dan keran pencuci mata (eye wash). Selain itu, perlu tersedianya peralatan P3K sebagai
antisipasi pertolongan pertama pada kecelakaan
Peralatan dan bahan di
laboratorium IPA harus memenuhi standar minimal sarana laboratorium IPA. Selain
peralatan dan bahan yang karakteristik untuk setiap laboratorium IPA, sarana
kelengkapan umum yang harus tersedia di laboratorium adalah meja dan kursi
siswa, meja dan kursi guru, meja demonstrasi, wastafel, lemari alat dan bahan,
papan tulis, serta peralatan spesifik (seperti jam dinding, termometer dinding,
barometer dinding, komputer, jaringan internet, telpon, layar, dan proyektor).
Selain itu peralatan yang penting ada pada laboratorium adalah peralatan
perlindungan diri (APD). Secara umum APD yang harus ada pada laboratorium IPA,
diantaranya sarung tangan, google, masker, dan jaslab.
Personil laboratorium IPA harus memiliki
kompetensi sesuai dengan kebutuhan. Selain kepala laboratorium yang
bertanggungjawab terhadap semua kegiatan di laboratorium, personil di
laboratorium, antara lain koordinator praktikum, guru praktikum, teknisi, dan
laboran. Koordinator praktikum bertugas untuk mengkoordinasi kegiatan praktikum
di laboratorium. Guru praktikum merupakan ujung tombak kegiatan praktikum di
laboratorium, sedangkan teknisi dan laboran berperan sebagai layanan sebelum,
selama, dan sesudah praktikum. Di laboratorium IPA sekolah yang
bertanggungjawab terhadap kebersihan dan keamanan laboratorium selama bekerja
di laboratorium adalah semua warga laboratorium. Dengan demikian, semua
personil termasuk guru praktikum, laboran, dan siswa memiliki kewajiban dalam
memelihara kebersihan dan keamanan laboratorium.
Sekecil apapun unit kerja, haruslah
memiliki struktur organisasi yang jelas agar dengan mudah mengarahkan
pekerjaan. Berdasarkan hirarki tanggung jawab, struktur organisasi laboratorium
IPA sekolah dapat dikembangkan dalam tiga tingkatan, yakni tingkat puncak,
menengah, dan garis depan. Manajemen puncak bertanggung jawab atas perencanaan,
penerapan, monitoring, dan evaluasi sistem menajemen mutu yang efektif.
Manajemen tingkat menengah umumnya mencakup unit fungsional, bertanggung jawab
pada operasional atau teknis kegiatan laboratorium, fungsi pengawasan mutu, dan
fungsi administratif. Manajemen garis depan adalah personil yang berhubungan
langsung dengan pengguna laboratorium (siswa) yang meliputi guru praktikum,
teknisi, dan laboran.
Laboratorium IPA sekolah bertanggung jawab
baik terhadap proses maupun produk kegiatan laboratorium. Hal ini dipahami
karena laboratorium sekolah berperan sebagai pengganti pembelajaran di kelas.
Oleh karena itu, laboratorium IPA sekolah harus dikelola secara
sungguh-sungguh, sistematik, tepat sasaran, sehingga tujuan pembelajaran yang
berorientasi pada proses dan produk pembelajaran melalui praktikum tercapai.
Agar tujuan praktikum di laboratorium tercapai, maka diperlukan sistem tata
kelola atau manajemen yang mencerminkan kualitas atau mutu proses atau kegiatan
laboratorium dengan senantiasa memperhatikan kepuasan siswa. Untuk itu, perlu
dikembangkan sistem dokumentasi laboratorium IPA sekolah. Dokumentasi adalah
suatu proses pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi.
Dengan dikembangkannya sistem dokumentasi laboratorium IPA sekolah, maka semua
kegiatan perencanaan, implementasi, dan evaluasi semua kegiatan laboratorium
dapat mudah ditelusur. Dengan kata lain, sistem dokumentasi laboratorium IPA
sekolah akan memudahkan siapa saja yang berkepentingan untuk mengakses
informasi tentang laboratorium dan kegiatannya.
Untuk mengetahui sejauh mana sistem mutu
dijalankan oleh suatu laboratorium, perlu dikembangkan sistem monitoring dan
kaji ulang manajemen. Monitoring adalah suatu kegiatan pemeriksaan sistematik
dan tidak memihak untuk menetapkan bahwa kegiatan sistem manajemen mutu dan
hasilnya telah sesuai dengan rencana, diterapkan secara efektif, dan telah
sesuai dengan pencapaian tujuan. Laboratorium IPA sekolah perlu melakukan
kegiatan ini baik secara internal (oleh laboratorium itu sendiri) maupun secara
eksternal (oleh tim monitoring dari luar laboratorium). Kegiatan ini tidak
terlepas dari upaya laboratorium untuk memberikan pelayanan optimal kepada
siswa dalam melaksanakan praktikum di laboratorium.
Sebagai tempat pembelajaran, laboratorium pada umumnya
mempunyai sarana dan prasarana
yang
terdiri atas:
1.
Ruang laboratorium: ruang untuk kegiatan praktikum, ruang
kegiatan administrasi dan persiapan, serta ruang penyimpanan;
2.
Fasilitas laboratorium: intalasi air (bak cuci dan kran air),
intalasi/jaringan listrik, saluran gas, lemari asap, blower/kipas angin,
meja, kursi, lemari, rak, papan tulis, alat pemadam kebakaran, kotak obat-obatan,
peralatan P3K, dll.;
3.
Alat-alat laboratorium: pH meter, mikroskop, neraca,
osiloskop, labu Erlemeyer, labu ukur.
4.
Zat (bahan kimia): asam florida, amoniak pekat, eter, oksigen
Untuk lebih jelas akan dibahas beberapa pengelolaan sarana dan
prasarana laboratorium.
Ruang Laboratorium bentuk, ukuran, denah
atau tata letak fasilitas dari setiap ruangan itu dirancang sedemikian rupa
sehingga memungkinkan setiap kegiatan yang dilaksanakan di dalamnya dapat
berjalan dengan baik dan nyaman, memudahkan akses dari ruangan yang satu ke
ruangan yang lainnya, memudahkan pengontrolan, menjaga keamaan alat-alat dan
memelihara keselamatan kerja. Berikut ini adalah contoh gambaran umum
ruangan-ruangan laboratorium.
a. Ruang praktikum
Ruang praktikum merupakan bagian utama
dari sebuah laboratorium sekolah. Ruang praktikum adalah ruang tempat
berlangsungnya proses pembelajaran di laboratorium. Proses pembelajaran di
dalam ruang praktikum dapat berupa peragaan atau demonstrasi, praktikum
perorangan atau kelompok, dan penelitian. Proses pembelajaran di ruang
praktikum menuntut tempat yang lebih luas dari pada proses pembelajaran
klasikal di dalam kelas biasa. Olehkarena itu luas ruang praktikum harus dapat
memberikan keleluasaan bergerak kepada siswa dan guru selama melakukan proses
pembelajaran. Luas ruang praktikum ini tentu harus memperhitungkan jumlah siswa
dan guru yang akan melaksanakan proses pembelajaran di dalamnya. Luas ruang
praktikum persiswa rata-rata 2,5 m2 (termasuk meja
kerja). Jadi bila kita ingin laboratorium memuat 40 siswa, maka luas
laboratorium tersebut hendaknya sekitar 100 m2
.
Untuk kenyamanan dan keselamatan kerja sebaiknya ruang praktikum
memiliki fasilitas-fasilitas sebagai berikut :
· Instalasi
listrik (untuk percobaan, demonstrasi, penerangan dan lain-lain),
· instalasi
air dengan bak cucinya, dan instalasi gas.
· Fasilitas
mebeler berupa meja dan kursi praktikan untuk siswa, kursi dan meja demonstrasi
untuk guru, loker penitipan tas buku
siswa, dan lemari penyimpanan alat-alat praktikum.
· Papan
tulis,
· Layar
untuk OHP serta in focus.
· Ventalasi
udara yang cukup, dapat berupa jendela, langit-langit yang tidak tertutup
rapat, atau mungkin kipas angin).
· Pintu
masuk dan pintu keluar yang berbeda dengan daun pintu terbuka ke luar.
· Pintu
yang berhubungan langsung dengan ruang persiapan dan ruang guru serta dapat
teramati dari.kedua ruangan
itu.
· Kotak
P3K.
· Fasilitas
pemadam kebakaran.
b. Ruang administrasi dan persiapan
Ruang adminstrasi dan
persiapan adalah ruang yang disediakan untuk melakukan pengadministrasian,
perawatan dan persiapan alat-alat serta bahan. Bila sekolah atau laboratorium
memiliki petugas laboran, ruang administrasi dan persiapan juga dapat
digunakan sebagai ruang kerja laboran dalam melayani kegiatan aboratorium
kepada guru dan siswa. Ruang administrasi dan persiapan terdapat di
dalam laboratorium, di antara ruang praktikum dan ruang penyimpanan atau
gudang.
Ruang administrasi/persiapan dan ruang praktikum
sebaiknya disekat dengan dinding berkaca bening atau ram kawat, sehingga
dari dalam ruang ini guru atau laboran dapat melihat kegiatan yang
terjadi di dalam ruang praktikum.
Ruang persiapan memiliki instalasi listrik dan ventilasi
udara yang baik. Memiliki fasilitas mebeler seperti :
· Kursi
dan meja kerja untuk melakukan pengadministrasian, perawatan, dan persiapan
kegiatan laboratorium.
· Lemari
atau rak alat-alat.
· Loket
peminjaman alat-alat.
c. Ruang penyimpanan.
Ruang penyimpanan di laboratorium dapat
juga disebut sebagai gudang laboratorium, adalah ruang yang disediakan khusus
untuk menyimpan alat-alat dan bahan yang sedang tidak digunakan.
Ruang penyimpanan terdapat di dalam laboratorium di sebelah dalam ruang
persiapan.
Ruang penyimpanan alat sebaiknya dipisahkan dengan ruang
penyimpanan zat, untuk menghindari kerusakan alat akibat korosi dsb. Apabila
tidak ada ruang lain untuk penyimpanan alat dapat dilakukan pada lemari di
ruang praktikum. Demi keamanan dan kemudahan penyimpanan dan pengambilan
alat-alat dan bahan, ruang penyimpanan atau gudang biasanya hanya
memiliki satu pintu masuk dan keluar melalui ruang persiapan.
Ruang penyimpanan atau gudang harus memiliki instalasi
listrik dan ventilasi udara yang baik. Memiliki fasilitas mebeler seperti :
· Macam-macam
lemari alat-alat dan bahan-bahan.
· Macam-macam
rak untuk alat-alat.
Pada
kenyataan di lapangan jumlah, bentuk, ukuran, kualitas dan lokasi setiap
ruang laboratorium dapat saja berbeda antara satu sekolah dengan sekolah
lainnya, bergantung kepada keadaan di masing-masing sekolah. Hal itu
dapat terjadi misalnya karena laboratorium didirikan dengan memanfaatkan
ruangan-ruangan tertentu yang sudah ada di sekolah. Akan tetapi,
seandainya laboratorium di bangun baru di tanah kosong, maka perencanaannya
hendaklah memperhatikan perbandingan yang proporsional antara ruang yang
satu dengan ruang yang lainnya, dan antara setiap ruangan yang dibuat hendaknya
mudah saling mengakses selama kegiatan laboratorium berlangsung. Berikut
ini adalah salah satu contoh denah ruang laboratorium.
Instalasi Gas
Instalasi gas di laboratorium dibutuhkan
untuk percobaan-percobaan yang menggunakan kompor/pemanas Bunsen seperti untuk
memanaskan air dan sebagainya. Instalasi gas di laboratorium dapat dibuat
dengan menggunakan tabung gas LPG dan penyaluran gas ke kompor/pemanas melalui
pipa instalasi gas yang dapat dipasang pada dinding atau lantai ke
kompor/pemanas. Dengan adanya instalasi gas ini, harus diperhatikan instalasi
udara yang cukup di tempat yang tepat untuk membuang kebocoran gas yang mungkin
terjadi. Harus diingat bahwa kalau
menggunakan gas LPG maka gas itu lebih berat dari udara sehingga lubang
pembuangan kebocoran gas itu harus di bagian bawah dinding atau cukup rendah
Berdasarkan uraian di atas penulis ingin menanyakan :
1. Bagaimana keberadaan
laboratorium IPA sekolah selama ini yang memiliki keterbatasan sarana dan
prasarana dapat menunjang pembelajaran yang membutuhkan praktikum?
2. Bagaimana
pemanfaatan laboratorium dalam mendukung pembelajaran IPA?
3.
Bagimana
cara pengelolaan laboratorium yang baik dapat membantu proses pembelajaran IPA
di sekolah?
DAFTAR
PUSTAKA
Ningsih. 2015. Dewiningsih.blogspot.com.
Sistem Manajemen Mutu Laboratorium IPA. 05 Februari 2018. 16.00 WIB
Wati. 2015. http://wati.blogspot.com. Manajemen
mutu laboaratorium. 01 Februari 2018. 16.00 WIB
Hengki dan Hasbian. 2013. Windahengki.blogspot.com.
Mengenal Mutu Laboratorium. 07 Februari 2018. 17.00 WIB
Kadaromah asep. 2012. Asepkadaromah.blogspot.com.Manajemen
laboratorium IPA. 06 Februari 2018. 16.00 WIB
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya mencoba menanggapi pertanyaan no 3.
Bagimana cara pengelolaan laboratorium yang baik dapat membantu proses pembelajaran IPA di sekolah?
Di dalam pembelajaran ipa itu banyak materi yg mengarah k pratikum. Kalau hanya pemberian teori saja di lokal saya kira itu belum cukup karena apalah arti teori tanpa pratikum..jadi disini guru harus bisa membagi waktu untuk teori dan pratikun langsung d dalam laboratorium.
Dengan teori disertai pratikum siswa akan cepat mengerti dan tidak bosan di kelas.
Terima kasih
Menanggapi pertanyaan nomor dua tentang pemanfaatan laboratorium dalam mendukung pembelajaran IPA?
BalasHapuskeberadaan laboratorium IPA di sangat mendukung proses pembelajaran, Praktikum yang dilakukan di laboratorium IPA tidak hanya sekedar kegiatan manual dengan atau tanpa alat saja, melainkan melatih peserta didik untuk memiliki keterampilan proses ilmiah dan pengembangan sikap ilmiah yang mendukung proses perolehan pengetahuan.
Salam
Agung Laksono
terimakasih artikelnya, terkait pertanyaan pertama Bagaimana keberadaan laboratorium IPA sekolah selama ini yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dapat menunjang pembelajaran yang membutuhkan praktikum? ini adalah hal yang sering kita jumpai disekolah yang berada diprovinsi ini terutama di plosok2, sarana dan prasarana praktikum kurang lengkap.menurut saya sebagai guru yang kreatif kita harus bisa menggunakan sarana prasarana lain yang ada dilingkungan kita untuk melakukan praktikum.walaupun sebenarnya lebih efektif jika menggunakan alat yang ada dilaboratorium, terutama seperti fisika, akan agak sulit melakukan praktikum jika alat nya tidak ada. maka selama ini sebagai gur hanya bisa berteori atau menunjukkan vidio atau gambarnya. hal ini akan berpengaruh terhadap penguasaan alat anak, karena akan lebih baik praktek secara langsung menggunakan alat tersebut. terimakasih
BalasHapusterima kasih....
BalasHapusmenjawab soal nmor 1 Bagaimana keberadaan laboratorium IPA sekolah selama ini yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dapat menunjang pembelajaran yang membutuhkan praktikum?
seorang guru harus kreatif, bla lab ipa nya blum memadai/blum ada bisa digunakan alat yang didapat dri perkelompok siswa atau jika terlalu mahal bisa digunakan media virlual lab.
Saya menanggapi pertanyaan no 3
BalasHapusLaboratorium IPA sekolah harus dikelola dengan sangat bersungguh-sungguh, sistematik, dan tepat sasaran, sehingga tujuan pembelajaran yang berorientasi pada proses dan produk pembelajaran melalui praktikum tercapai. Pada pembelajaran IPA semsetinya tidak hanya berfokus pada teori saja tetapi diarahkan untuk kegiatan praktikum pada materi-materi yang membutuhkan kegiatan percobaan.
terima kasih
Saya akan menjawab pertanyaan nomor 3 yaitu dengan memperhastikan aspek perencanaan tentang semua kegiatan yang harus dilakukan, langkah , metode, tenaga, dan dana. Yang kedua dengan penataan alat serta bahan. Yang ketiga melakukan proses pencatatan ataupun investarisasi fasilitas serta aktifitas laboratorium. Yang keempat memperhatikan pengamanan, perawatan serta pengawasan
BalasHapusmenanggapi pertanyaan No 2, Bagaimana pemanfaatan laboratorium dalam mendukung pembelajaran IPA?
BalasHapusmenurut saya untuk pemanfaatan laboratorium dalam mendukung pembelajaran IPA sudah bisa dimanfaatkan dengan baik, walaupun dibeberapa sekolah memiliki keterbatasan dari segi sarana dan prasarana guna menunjang kegiatan dilabor, dan hal itu harus bisa diatasi dengan oleh pemerintah guna mencapai pemanfaatan laboratorium yang bisa dimanfaatkan dengan baik.
BalasHapusMenanggapi soal no 1.
Memang tidak bisa di pungkiri, masih ada banyak sekolahan yang tidak mempunyai sarana dan prasarana praktikum yang lengkap.
Untuk itulah seorang guru harus kreatif, sehingga permasalahan tersebut bisa diatasi.
Guru bisa mengadakan praktikum yang sederhana, dengan memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada, atau guru jg bisa membuat sendiri fasilitas praktikum yang mampu menunjang jalannya praktikum tsb.
menanggapi pertanyaan nomor 2.
BalasHapusWalaupun ada pembedaan jenis laboratorium, tetapi ada fasilitas laboratorium yang bersifat umum yang seharusnya ada dalam setiap laboratorium, seperti:
1) Meja. Meja ada beberapa macam, yaitu meja kerja untuk peserta didik meja kerja untuk guru, meja demonstrasi dan meja dinding.
2) Lemari. Berdasarkan wujud dan kegunaannya maka kebutuhan lemari suatu laboratorium adalah sebagai berikut: (a) Lemari biasa (lemari kaca), (b) Lemari gantung, dan (c) Lemari di bawah meja dinding
3) Rak
4) Bakcuci pada meja
5) Listrik (stop kontak pada setiap meja praktikan)
6) Pemanas (gas atau pembakar spiritus)
Terima kasih
mencoba menanggapi pertanyaan nomor satu ibu untuk sarana dan prasarana laboratorium yang kekurangan alat biasanya guru akan mengakali dengan membuat alat sederhana atau dengan menggunakan media kreatif yang tersedia disekolah atau disekitar lingkungan
BalasHapusMenurut pendapat saya, bagaimana keberadaan laboratorium IPA sekolah selama ini yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dapat menunjang pembelajaran yang membutuhkan praktikum?
BalasHapusPara guru bisa mengadakan praktikum secara sederhana dengan menggunakan alat-alat praktikum yang mudah didapat kan, tapi itu semua tergantung pada kreatif guru dalam mengadakan praktikum tersebut.
Terima Kasih
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan No 3
Agar pengelolaan labor dapat membantu proses pembelajaran IPA dapat dilakukan mulai dari manajemen mutu laboratorium yang sesuai standar dan pelengkapan sarana dan prasarana yang lengkap.
terima kasih
Bagaimana keberadaan laboratorium IPA sekolah selama ini yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dapat menunjang pembelajaran yang membutuhkan praktikum? disini bisa menggunakan laboratorium virtual dengan memanfaatkan alamdan lingkungan sekitar sebagai instrumen praktikum dan guru juga bisa menggunakan media simulasi.
BalasHapus